Akankah IoT Menjadi Standar Bagi Industri Alat Berat?

Bila kita menyimak perkembangan teknologi pada industri alat berat belakangan ini, kita akan menemukan berbagai berita mengenai proyek besar penerapan Internet of Things (IoT) yang dilakukan berbagai merek alat berat. Sebetulnya apakah IoT itu?

Menurut Wikipedia, IoT adalah jaringan dari berbagai perangkat, seperti komputer, telepon, sensor, perangkat pemancar, dan berbagai perangkat elektronik lainnya yang bekerjasama secara simultan dengan bantuan perangkat lunak yang memungkinkan terjadinya pertukaran data dan informasi antar perangkat melalui jaringan internet untuk suatu tujuan. Dengan bahasa awam, IoT adalah penggunaan internet untuk menjalankan suatu fungsi yang dikehendaki. Konsep IoT bukanlah sebuah konsep yang baru, walaupun istilah ini makin populer beberapa tahun belakangan. Konsep kerjasama berbagai perangkat cerdas pertama kali muncul pada tahun 1982 saat sekelompok mahasiswa pada Universitas Carnegie Mellon melakukan modifikasi pada sebuah mesin minuman bermerek Coke di kampusnya. Modifikasi yang dilakukan para mahasiswa ini terhitung sangat maju di saat itu karena mengaplikasikan internet pada perangkat-perangkat yang digunakan, walaupun pada saat itu internet masih merupakan teknologi yang langka digunakan. Para mahasiswa ini bisa mendapatkan laporan stok minuman yang tersedia dan saat kaleng-kaleng minuman telah cukup dingin dan siap dinikmati.

Walaupun sesudahnya tercatat beberapa inovasi yang bisa dikategorikan sebagai IoT, namun konsep ini masih asing. Tidak heran, karena internet sendiri masih mengalami evolusi menjadi lebih baik dan cepat seperti pada saat ini. Barulah pada tahun 1999, konsep ini mulai populer setelah sebuah kelompok riset, Auto-ID Labs, melakukan berbagai penelitian untuk mengembangkan teknologi otomatisasi. Salah seorang pendiri Auto-ID Labs, Kevin Ashton, mulai menggunakan istilah Internet of Things untuk mendefinisikan kolaborasi antar berbagai perangkat cerdas yang berbasis internet.

Industri alat berat sendiri tidak serta merta mengembangkan teknologi ini dengan antusias. Pada awal tahun 2000-an beberapa pabrikan alat berat terkemuka mulai mengembangkan teknologi monitoring alat berat yang berbasis frekuensi radio. Hal ini tidak mengherankan, karena saat itu internet masih menjadi teknologi yang mahal, bahkan di negara-negara maju sekalipun. Monitoring alat berat yang dilakukan dengan prinsip sebuah alat berat yang telah dipasangi berbagai sensor secara otomatis mengirimkan sinyal-sinyal radio melalui pemancar yang terpasang pada alat berat itu. Sebuah stasiun kontrol menangkap sinyal yang dipancarkan untuk memberikan laporan kinerja operasi alat berat tersebut, beberapa merek mulai menerapkan teknologi ini untuk memonitor aspek maintenance.

Namun karena menggunakan frekuensi radio, tentu saja teknologi ini mengalami kendala keterbatasan jarak jangkau maupun kualitas sinyal yang diterima, terutama pada area-area yang terpencil, disamping biaya yang dikeluarkan untuk pengoperasiannya cukup besar. Perkembangan teknologi telekomunikasi, membuat para pabrikan mulai melirik teknologi yang saat itu menjadi booming yaitu GSM. Perangkat monitoring mulai dibundling menggunakan sinyal GSM sebagai medianya. Teknologi ini masih banyak digunakan pabrikan-pabrikan alat berat, walau tidak bisa dipungkiri biaya operasionalnya masih cukup mahal. Caterpillar, Komatsu, Hitachi dan John Deere merupakan merek-merek alat berat yang telah mengaplikasikan teknologi berbasis GSM sejak 2000-an awal. Komatsu sendiri telah menjalin kerjasama dengan Orbcomm, sebuah provider telematika terkemuka sejak tahun 2001 dengan hasilnya KOMTRAX and VHMS on-board machine monitoring yang menjadi standar dari setiap alat berat Komatsu. Namun sistem telematika yang diterapkan saat itu masih belum berbasis internet, sehingga dalam penerapannya masih menggunakan sistem single point connection, yang berarti jika sebuah perusahaan yang memiliki berbagai alat berat dalam operasionalnya, perusahaan ini harus memiliki sekian sistem terpisah. Kerepotan akan muncul saat perusahaan tersebut ingin mengefisienkan operasionalnya yang berarti semua alat berat yang dimilikinya berkolaborasi dalam satu network.

Dengan semakin murahnya internet belakangan ini, pabrikan-pabrikan alat berat mulai mengaplikasikan IoT pada alat-alat berat yang diproduksinya. Berbeda dari teknologi telematika yang digunakan sebelumnya, sistem telematika yang sedang dibangun berbagai merek alat berat ini menggunakan internet. Sebagai medianya tentu saja masih berbasis teknologi telekomunikasi yang ada saat ini, seperti GSM, 3G, 4G dan perkembangan terakhir akan berkembang menjadi teknologi 5G. Kelebihan teknologi berbasis internet ini dibanding teknologi sebelumnya adalah memungkinkan penggunaan data berukuran besar (big data) berbasis komputasi awan (cloud), suatu hal yang dibutuhkan untuk kolaborasi berbagai alat berat dalam satu jaringan. Sejak 2016, 3 besar pabrikan alat berat Caterpillar, Komatsu dan Hitachi telah intens melakukan pengembangan produk-produk berbasis IoT ini. Belakangan langkah 3 merek utama alat berat ini mulai diikuti pabrikan-pabrikan lain, seperti Libherr, Volvo, Doosan, maupun berbagai pabrikan alat berat asal Tiongkok

IoT ini tidak hanya diterapkan pada operasional dan maintenance alat berat, proses manufaktur pun tidak lepas dari penerapan teknologi ini, sebut saja XCMG asal Tiongkok yang menjadi pionir di antara perusahaan-perusahaan alat berat. Penggunaan IoT juga tidak hanya diterapkan pada unit-unit alat berat, beberapa pabrikan komponen, seperti Bosch bahkan secara intensif menerapkan teknologi ini produk-produknya.

Tidak salah memang kalau dikatakan teknologi IoT akan menjadi sebuah standar bagi industri alat berat. Industri pertambangan yang masih menjadi tulang punggung pendapatan utama perusahaan-perusahaan alat berat menghadapi kendala semakin menipisnya cadangan bahan-bahan tambang galiannya. Untuk itu tidak ada jalan lain bagi perusahaan pertambangan untuk mengefisienkan operasionalnya sehingga masih cukup kompetitif mendulang dollar di sektor ini. Alat berat yang menjadi tulang punggung industri pertambangan dituntut untuk dapat beroperasi lebih efisien. Di sinilah IoT menjadi jawabannya.

(ES)

 

Leave a Comment