Alat Berat Autonomous. Keniscayaan atau Ilusi?

Pagi itu, Amir, seorang operator dump truck di sebuah perusahaan pertambangan di Kalimantan Timur sedang bersiap-siap berangkat bekerja. Sambil mengobrol dengan rekannya, ia berjalan menuju tempat menunggu crew bus yang akan mengantarkan mereka ke lokasi parkir dump truck yang akan mereka operasikan. Setelah morning talk, Amir menuju service car dimana foreman operasionalnya telah menunggu dan menyerahkan sebuah remote control. Kemudian Amir menuju dump truck yang dioperasikannya untuk melakukan daily check. Setelah semua dirasakan siap, mulailah ia mengaktifkan remote control yang dipegangnya dan dump truck pun mulai bergerak menuju antrian untuk dimuat oleh sebuah excavator besar.

Ilustrasi ini merupakan gambaran situasi kerja bila dump truck autonomous telah diaplikasikan pada operasional pertambangan. Ada hal-hal yang berubah jika teknologi autonomous telah diterapkan secara masal pada alat berat. Seorang Amir bisa bekerja dari sebuah ruang kontrol berpendingin udara, ketimbang duduk di belakang kursi operator dump truck yang dioperasikannya, seperti yang dilakukannya bertahun-tahun yang lalu.

Dunia saat ini sedang dipesonakan dengan berbagai berita mengenai mobil autonomous. Berbagai merek mobil seakan berlomba menciptakan mobil-mobil autonomous dengan berbagai fitur dan keunggulannya. Gaung dari teknologi yang diyakini bisa mempermudah hidup manusia ini juga mulai terdengar di industri alat berat, beberapa pabrikan alat berat terkemuka mulai menguji coba protipe alat berat autonomous-nya. Namun, seperti juga pada industri otomotif, belum satu pun produk alat berat yang telah memasuki tahap produksi masal.

Teknologi autonomous merupakan suatu teknologi yang menggabungkan berbagai teknologi yang utamanya teknologi informasi, elektronika, mekanikal. Pada alat berat masih ditambah dengan teknologi hidraulik. Persoalan utama yang dihadapi dalam pengembangan teknologi autonomous pada saat ini adalah bagaimana mensinkronkan teknologi-teknologi ini sehingga bisa berkolaborasi secara harmonis satu dengan yang lain.

Pada situasi kerja di pertambangan yang memiliki kompleksitas lebih tingga daripada situasi di jalan raya, penerapan teknologi autonomous menghadapi tantangan dari berbagai faktor, seperti skill operator, perencanaan kerja, manajemen operasional di lapangan, skill mekanik, sampai dengan safety. Pengoperasian alat berat autonomous membawa berbagai dampak positif, yang utamanya adalah efisiensi, namun dalam penerapannya tentu tidak mudah, misalnya bagaimana alat berat mengantisipasi kondisi darurat yang tiba-tiba terjadi, misalnya sebuah excavator terperosok saat bekerja pada area pinggir sungai yang berlumpur.

Teknologi autonomous yang juga dikenal sebagai teknologi self-driving terbagi 2, semi autonomous dan full autonomous. Semi autonomous bila operator masih berada di kabin operator yang siap mengambil alih pengendalian alat berat sewaktu-waktu bila diperlukan,jadi mirip seperti teknologi auto-pilot pada pesawat. Sementara pada full autonomous, alat berat bekerja tanpa operator. Sebetulnya pengertian tanpa operator bukan dalam arti tidak ada operator sama sekali. Operator tetap ada, namun ia mengoperasikan alat berat dari jarak jauh, seperti yang dilakukan Amir pada ilustrasi di atas.

Beberapa pabrikan alat berat terkemuka dunia tercatat telah melakukan uji coba pengoperasian alat berat automous yang diproduksinya. Sebut saja Komatsu. Komatsu memperkenalkan dozer autonomous D61i-23 yang menerapkan teknologi Intelligent Machine Control (IMC). Dengan teknologi ini, dozer ini mampu melakukan pengontrolan blade secara otomatis berdasarkan data 3 dimensi CAD dari gambar site plan yang disempurnakan dengan peta 3 dimensi yang dihasilkan Skycatch drone. Operator masih mengontrol unit secara keseluruhan dari dalam kabin.

Tidak hanya alat berat berteknologi semi autonomous, Komatsu melakukan 1 langkah lebih maju dalam pengembangan teknologi ini dengan prototipe Komtasu dump truck 830E dan 930E yang ditunjukkan kepada publik pada MINExpo 2016 di Las Vegas, AS. Kedua prototipe ini menggunakan teknologi full autonomous yang ditunjukkan tidak adanya kabin operator pada dump truck yang disebut sebagai alat berat terbesar di dunia yang berteknologi full autonomous. Pengoperasiannya menggunakan remote control. Namun alat berat ini belum digunakan pada demo kerja seperti yang lazim dilakukan pada sebuah produk sebelum diluncurkan.

Volco Construction Equipment (Volvo CE) yang dikenal dengan berbagai inovasinya tidak ketinggalan dalam mengembangkan alat berat berteknologi autonomous. Dimulai dengan Volvo HX 01, sebuah mini dump truck, yang dipamerkan kepada publik pada tahun 2016.Volvo langsung memproduksi prototipe yang berbasis full autonomous. Prototipe ini pun telah diuji coba dengan dimuati material dari sebuah excavator.

autonomous_alat_berat_equipina_1

Tidak hanya itu, Volvo CE juga memproduksi prototipe wheel loader Volvo LX 01, sebuah wheel loader semi autonomous. Untuk menunjukkan bagaimana alat berat dengan sistem autonomous bekerja sama, Volvo CE juga melakukan demo kerja dengan mengkombinasikan Volvo HX 01 dengan Volvo LX 01.

Inovasi lainnya yang dilakukan Volvo CE adalah melalui Volvo EX2, sebuah mini excavator elektrikal, yang bisa dioperasikan dengan atau tanpa operator. Bahkan mini excavator ini juga bisa dioperasikan dengan remote control berupa smartphone yang telah diinstall aplikasi pengontrolan mini excavator ini (Baca juga : Volvo Construction Equipment Sukses Melakukan Uji Coba Mini Excavator Elektrik EX2).

Berturut-turut Volvo juga mengembangkan Articulated Dump Truck autonomous melalui Volvo A25F dan wheel loader autonomous L120E. Kedua prototipe sudah menggunakan teknologi full autonomous dan melakukan demo kerja dengan L120E autonomous memuat material pada Volvo ADT A25F autonomous untuk selanjutnya diangkut dan dibuang pada dumping area. Semuanya tanpa melibatkan operator yang duduk di dalam kabin. Full autonomous!!!

Caterpilla dan Case, 2 produsen alat berat terkemuka dunia, juga telah mulai melangkah memasuki teknologi autonomous. Cat sukses menerapkan teknologi teknologi Cat Command pada alat berat mining yang diproduksinya. Begitu pun dengan Case yang sukses mengimplementasikan sistem telematik SiteWatch yang dikombinasikan dengan SiteControl dan SiteSolutions. Bekerjasama dengan LeicaGeosystems, Case bekerjasama membangun teknologi autonomous yang akan dikembangkan pada alat-alat berat produksinya.

Dari kecenderungan yang sedang berkembang pada teknologi alat berat, kita melihat bahwa teknologi autonomous bukanlah hal yang mustahil diterapkan pada alat berat. Namun hal ini bergantung juga pada kesiapan faktor-faktor lain di luar unit alat berat.

 

(ES)

Leave a Comment