Alat Berat Rintisan Anak Bangsa : Mini Excavator Kasmino Asal Semarang

Sebuah excavator mini berwarna jingga terparkir di depan salah satu rumah di Jalan Nirwanasari RT01 RW I Nomor 14, Kelurahan Tembalang, Kota Semarang. Inilah alat berat buatan asli anak negeri. Berukuran lebih kecil dari excavator pada umumnya, alat berat itu dinamai Kasmino.

Kasmino diberikan oleh si pembuat alat berat tersebut, Kasmin Riyadi (38), warga Tembalang, yang menggeluti dunia rintisan alat berat. Lulus dari Politeknik Negeri Semarang (Polines) pada 2003, ia melanjutkan hidup di Jakarta dengan bekerja di perusahaan yang bergerak di bidang servis hidrolik industri. Pada 2005, ia merintis usaha servis hidrolik industri sendiri. ”Kasmino diambil dari nama saya, yakni Kasmin.

Penambahan huruf ”o” di akhir nama sebagai pengucapan yang kental logat bahasa Jepang. Selain itu, agar merek dalam negeri dapat bersaing dengan merek-merek dari Jepang,” ujar Kasmin, Sabtu (20/1). Ia mengaku, keprihatinanlah yang membuat dia bergerak untuk menciptakan alat berat sendiri.

Menurutnya, Indonesia masih ”dijajah”. Buktinya, sekadar untuk alat berat saja masih mengandalkan negara lain, seperti Jepang, Korea, dan Amerika. Sejauh ini, sudah tujuh excavator mini yang dia dan timnya kerjakan.

Pada 2010 alat itu dibeli oleh pengusaha Sumatera, 2012 oleh pengusaha Sulawesi, 2014 oleh pengusaha Jakarta, 2016 oleh pengusaha Jakarta dan Balitbang Provinsi Jawa Tengah, serta 2017 oleh pengusaha Demak. Harga alat berat tersebut berada pada kisaran Rp 150 juta hingga Rp 250 juta. Untuk menyelesaikan alat berat tersebut, ia dibantu oleh empat karyawan, yakni Eko Priatno, Triyono, Muchlisin, serta Solahudin. Dia pernah mengalami kegagalan. Kasmin mengaku, pernah membongkar bagian leher excavator mini hingga tiga kali karena perhitungan yang kurang tepat.

Hal itu mengurangi keuntungannya. ”Ketika mengerjakan Kasmino, kami awalnya menemui beberapa kendala. Proses merakit yang masih manual, mengelasnya juga masih menggunakan genset sehingga bising, peralatan bengkel sederhana, kesulitan permodalan, serta yang paling menjadi kendala adalah legalitas yang mahal,” ujarnya.

Ia memiliki harapan besar kepada berbagai pihak, terutama ke swasta, agar membeli produk dalam negeri yang terdapat sisi nasionalismenya. Adapun kepada pihak-pihak terkait agar ikut terlibat dan mengurangi ketergantungan akan produk luar negeri. Selain itu, untuk Kementerian Pendidikan dapat menaruh alat berat di SMK Jurusan Teknik Mesin, Perkapalan, serta Penerbangan. ”Untuk perusahaan BUMN seperti Telkom dan PLN misalnya, mereka bisa berpartisipasi dalam rintisan alat berat ini. Salah satunya dengan cara membantu kami dalam proses pembuatan produk contoh seperti skyworker dengan dana dari CSR,” imbuh dia.

Excavator mini seberat 350 kg itu memiliki fungsi sebagai alat berat sesungguhnya. Selain itu, dapat digunakan sebagai alat peraga siswa SMK, mahasiswa Jurusan Teknik Mesin, Teknik Perkapalan, Teknik Penerbangan, Teknik Alat Berat, serta alat peraga perusahaan. ”Dalam dunia alat berat, excavator merupakan jenis yang paling rumit. Jadi, jika kami bisa membuat excavator meskipun berukuran mini, berarti kami bisa membuat stoom walls, crane, forklift, dan lain-lain. Istilahnya, excavator merupakan induknya alat berat,” imbuhnya.

Selanjutnya, ia akan membuat taman putar yang diberi nama ”Taman Kahyangan”, yakni taman yang bisa berputar dengan kekuatan hiodrolik pertama di dunia. Selain itu, display meja putar untuk hotel dan kantor juga tengah ia persiapkan. Meja putar tersebut dapat digunakan untuk memutar patung atau maket.

(BW)

Leave a Comment