Business & Profile

BCI Bus, Dari Australia ke Tiongkok ke Mancanegara

Anda yang tinggal di Jakarta dan biasa berlalu lalang di pusat kota Jakarta, tentunya Anda sangat familiar dengan bus tingkat pariwisata milik Pemprov DKI. Bus tingkat pariwisata yang pengelolaannya dilakukan oleh PT. Trans Jakarta ini mulai ada di Jakarta sejak awal 2014, saat Jokowi masih menjabat Gubernur DKI. Awalnya ada 5 bus tingkat yang beroperasi pada 1 rute, saat ini bus pariwisata yang dikelola oleh PT. Trans Jakarta telah berkembang menjadi 18 unit  dengan melayani 4 rute.

Pada saat itu, 5 bus tingkat ini ramai menjadi perbincangan masyarakat. Disamping masyarakat Indonesia sudah cukup lama tidak melihat dan menaiki bus tingkat setelah era bus tingkat yang dioperasikan PPD berakhir, masyarakat pun tidak dikenai biaya untuk menumpang bus-bus ini. Belakangan, keberadaan bus-bus ini pun dikaitkan dengan permasalahan bus-bus Trans Jakarta asal Tiongkok yang sempat menjadi kasus besar beberapa tahun yang lalu.

5 bus tingkat tahap pertama yang dikenal masyarakat dengan julukan Mpok Siti ini merupakan bus tingkat yang diimpor dari Tiongkok, dengan brand BCI. Bus-bus yang body-nya dihiasi dengan ornamen mural dengan dominasi warna biru dan kuning, diimpor oleh PT. Putriasi Utama Sari sebagai pemenang tender pengadaan bus tingkat kala itu.

Terlepas dari kasus yang menyelimuti bus-bus Trans Jakarta asal Tiongkok yang juga berdampak kepada bus-bus tingkat pariwisata generasi pertama, BCI (singkatan dari Bus & Coach International) memiliki pengalaman panjang dalam mengembangkan berbagai jenis bus. Sejatinya, BCI bukan bus yang berasal dari Tiongkok melainkan Australia.

Pada tahun 1991, Ron J. Nazzari mendirikan BCI di Perth, Australia sebagai perusahaan pengimpor bus-bus Hino dari Malaysia ke Australia. Ron mengimpor sasis-sasis bus dari Malaysia untuk dibuat menjadi bus di fasilitas karoserinya di Australia. Tahun 1997, merupakan satu tonggak penting bagi BCI dengan mulai memproduksi sasis bus berlabel BCI di fasilitas manufakturnya di Malaysia. Pada saat inilah bendera BCI makin berkibar, pasar Australia dan Selandia Baru yang menyambut hangat bus-bus BCI semakin mengukuhkan eksistensi BCI.

Namun pada 2006, seiring dengan kondisi perekonomian mancanegara yang menurun, menyebabkan nilai tukar dollar Australia pun terimbas. Buntutnya, BCI merelokasi fasilitas manufakturnya di Malaysia ke China. Kota Nanchang dipilih sebagai basis produksinya melalui Bus & Coach International (HK) Ltd, yang berbasis di Hongkong. Namun ini pun tidak bertahan lama, pada tahun 2011, Ron kemudian memindahkan pabrik dan fasilitas milik BCI ke kota Xiamen. Fasilitas pabriknya diperluas mencapai 10 hektar. Pada saat ini juga, BCI mulai melebarkan sayapnya ke Amerika Serikat.

Pada tahun 2013, Weichai Power, produsen engine, truk, bus dan alat berat terkemuka di Tiongkok membeli 67% saham BCI senilai 108 juta Yuan dan menjadikan Weichai Power sebagai pemilik saham mayoritas Xiamen Fengtai Bus and Coach International Co., Ltd. (FTBCI), perusahaan yang dibentuk di Tiongkok untuk memproduksi bus-bus BCI. Kemampuan produksinya kemudian dikembangkan, dari semula cuma sekitar 300 bus per tahun, di tangan Weichai Power produksi meningkat menjadi 3000-an bus dan diharapkan produksinya akan mencapai 10.000 bus per tahunnya pada tahun 2020.

bci_bus_equipina_1

BCI, baik di Australia maupun Tiongkok, memproduksi berbagai jenis dan ukuran bus, dari  ukuran 6-18 meter, dengan kategori mini bus, city bus sampai dengan bus jarak jauh (coach bus). Di fasilitas manufaktur dan assemblingnya di Xiamen, setiap hari puluhan bus diproduksi untuk dipasarkan di Tiongkok sendiri, Amerika Serikat, Inggris, Australia, Selandia Baru dan beberapa negara di Asia. Dari sisi teknologi, bus-bus yang diproduksi BCI memiliki variasi bermacam-macam, dari konvensional dengan mesin diesel, listrik, hybrid (electric diesel), sampai dengan gas. Untuk bus-bus yang diproduksi di Australia, engine-engine yang digunakan merupakan Cummins engine, sedangkan bus-bus yang diproduksi di Tiongkok menggunakan Weichai sebagai engine-nya. Jenisnya pun bervariasi, dari mulai single bus, articulated bus (bus gandeng) sampai dengan double decker bus (bus tingkat).

Untuk memproduksi bus-bus dalam jumlah yang besar ini, BCI menerapkan berbagai teknologi dan peralatan modern dalam produksinya, termasuk mengadopsi sistem manajemen kualitas dari Toyota, seperti Kanban, Just in Time, 5S, dll. Weichai Power bekerjasama dengan Toyota Corporation, Jepang, dalam mengimplementasikan total quality management yang diimplementasikan pada setiap anak perusahaannya, termasuk FTBCI.

Di Indonesia, bus-bus BCI ditangani langsung oleh Weichai representatif Indonesia, Griya Sinta Lt. 7D, Jl. Tomang Raya No. 39, Jakarta Barat. Telepon (021) 29321624. Fax (021) 29321625.

 

(LK)

Leave a Reply