Bedder, Attachment Untuk Beberapa Pekerjaan Sekaligus di Lahan Pisang, Inovasi Tanah Lampung

Lampung dikenal sebagai salah satu daerah penghasil pisang utama di Indonesia. Iklim dan kesuburan tanah adalah faktor-faktor yang membuat tanaman pisang tumbuh dengan subur di Lampung. Memang pisang telah lama menjadi tanaman pertanian tradisional masyarakat di Lampung, yang belakangan diikuti dengan berbagai perusahaan yang mengelola tanaman pisang secara besar-besaran.

Sayangnya pengelolaan lahan untuk tanaman pisang masih banyak yang dilakukan secara tradisional dengan menggunakan tenaga manusia, sehingga hasil produksi pisang yang diperoleh pun kurang maksimal. Bagi para petani karena keterbatasan dana, hanya bisa melakukan penyiapan lahan dengan menggunakan tenaga manusia dengan peralatan sederhana seperti cangkul. Perusahaan-perusahaan yang memproduksi pisang pun masih banyak yang menggunakan tenaga manusia.

Hanya sebagian perusahaan yang telah melakukan mekanisasi dengan menggunakan peralatan modern. Namun sayangnya, penggunaan peralatan modern seperti traktor pertanian dengan attachment-nya belum menjamin hasil yang diperoleh cukup tinggi. Produktivitas dari peralatan modern ini rupanya belum bisa dikatakan tinggi. Hal inilah yang menjadi keprihatinan dari Hadi Ismawan, seorang wirausaha kontraktor penyiapan lahan bagi PT. Great Giant Pineapple Co., sebuah perusahaan agribisnis yang memiliki lahan perkebunan pisang di Terbanggi Besar, Lampung Tengah.

Hadi Ismawan, seorang pensiunan dari perusahaan alat berat terkemuka mengamati selama ini penyiapan lahan bagi tanaman pisang dilakukan dengan menggunakan traktor pertanian yang dilengkapi dengan attachment plowing (bajak) berupa deretan piringan besi yang ditarik sebuah traktor.

bedder_lahan_pisang_equipina

Namun sayangnya sifat pekerjaan plowing yang didesain untuk pekerjaan pembajakan lahan secara umum kurang sesuai bagi lahan tanaman pisang. Plowing yang berukuran sama lebar atau lebih lebar dari traktor hanya bisa membongkar tanah. Padahal tanaman pisang membutuhkan parit di sisi kiri kanannya untuk menjamin pasokan air yang cukup bagi tanaman pisang. Plowing tidak bisa membentuk parit-parit ini sehingga masih dibutuhkan tenaga manusia untuk membangun gundukan tempat pisang ditanam dan parit-paritnya. Belum lagi penggunaan plowing membutuhkan 2 phase (lintasan traktor) untuk membuat tanah menjadi gembur. Padahal dengan dilalui oleh traktor yang cukup berat membuat tanah menjadi keras. Hal ini masih ditambah dengan peningkatan jumlah konsumsi bahan bakar untuk melakukan 2 phase.

Hadi, yang ditemui Equipina di sela-sela acara Inagritech 2017 di kawasan JIEXPO Kemayoran menjelaskan proses finishing lahan dengan menggunakan tenaga manusia sangat rentan menimbulkan masalah. Faktor kelelahan bisa membuat pekerjaan pengurugan dan pembuatan parit menjadi tidak konsisten, apalagi kalau lahan yang dikerjakan cukup luas. Belum lagi pekerjaan harus dilakukan saat musim hujan, saat tanah menjadi lebih gembur dan lebih mudah dikerjakan dengan cangkul. Pada musim kemarau, struktur tanah lebih keras sehingga tidak efektif untuk dikerjakan karena pekerjaan menjadi lebih lambat yang membuat biaya upah buruh menjadi lebih mahal, belum ditambah faktor para buruh tidak bisa dipastikan kontinuitasnya dalam bekerja.

Hal lain yang paling fatal dengan penggunaan tenaga manusia adalah timbulnya penyakit tanaman pisang seperti penyakit busuk akar. Tanaman pisang membutuhkan air yang mengalir, sehingga saat terjadi genangan akibat pekerjaan yang hasilnya tidak kontinyu akan membuat akar tanaman pisang menjadi terendam air dan menjadi pemicu munculnya berbagai penyakit.

Melihat fakta-fakta di lapangan, Hadi mencoba mendesain sebuah attachment khusus bagi lahan perkebunan pisang. Berbekal pengalaman dan pengetahuannya di bidang alat berat, ia membuat attachment yang menyerupai plowing. Namun Hadi memodifikasi piringan besi bukan disusun sejajar seperti plowing yang umum, ia menyusun piringan dalam arah yang berbeda sehingga piringan ini tidak hanya berfungsi membongkar tanah saja, melainkan memecah bongkahan tanah sekaligus membentuk parit. Agar bobot dari traktor tidak membuat tanah menjadi padat, Hadi mendisain bedder (nama attachment-nya yang dibuatnya) hanya bekerja pada satu sisi dari traktor, sehingga tanah yang telah dibongkar dan dibentuk tidak terlindas ban traktor.

Bedder ini juga bisa diangkat saat keluar dari lahan yang dikerjakan, sehingga tidak merusak struktur permukaan tanah yang bukan meruapakan area tanam pisang. Ia mendesain sistem hidrolik dengan memanfaatkan PTO dari traktor untuk mengangkat dan menurunkan bedder.

bedder_lahan_pisang_equipina_1

Karena pekerjaan pengolahan lahan perkebunan pisang bisa dikelompokkan menjadi 2, bagian tengah lahan dan bagian pinggir lahan. Hadi mendesain 2 bedder yang berbeda untuk bagian tengah dan bagian pinggir lahan. Kedua bedder yang berbeda ini dipasang pada 2 traktor yang bekerja dengan tugas yang berbeda. Fungsi dari traktor dengan bedder yang bekerja pada bagian tengah lahan adalah menggemburkan, menimbun sekaligus membuat parit. Sedangkan pada bagian pinggir lahan bekerja traktor lain dengan bedder-nya yang berbeda untuk menimbun salah satu sisi lahan dan sekaligus membuat parit.

Dengan penggunaan bedder yang berbeda pada 2 traktor, efisiensi pun meningkat. Hadi menjelaskan, dengan sistem yang dibuatnya traktor cukup bekerja 1 phase, sehingga sangat menghemat waktu dan biaya bahan bakar. Selain itu, pekerjaan pengolahan lahan juga bisa dilakukan pada musim kemarau dengan hasil yang sama baik dengan saat musim hujan.

Sebagai gambaran efisiensi yang dihasilkan dengan penggunaan bedder ini, bila sebelumnya dengan mengunakan plowing, biaya yang dibutuhkan untuk pengolahan 1 hektar lahan sebesar Rp. 700 ribu, dengan bedder biaya yang dibutuhkan hanya Rp. 100 ribu per hektarnya.

Untuk membuat bedder, ia mengerjakannya di workshopnya. Hadi menambahkan, untuk traktor yang berbeda diperlukan penyesuaian antara bedder terhadap unit traktornya. Namun berbagai jenis traktor pertanian pada prinsipnya bisa menggunakan bedder. Dengan keberhasilannya menekan biaya pengolahan lahan, tidak heran ia mendapat kepercayaan dari PT. Great Giant Pineapple Co. untuk mengolah lahan yang lebih luas lagi.

bedder_perbandingan_equipina

Bila Anda menghadapi masalah dalam produktivitas pengolahan lahan perkebunan pisang, mungkin Anda perlu mempertimbangkan menggunakan bedder.

Untuk informasi lebih lanjut, hubungi:

Hadi Ismawan
Perumahan Dwi Karya Blok C2 No. 49
PT. Great Giant Pineapple Co., Km 77
Terbanggi Besar, Gunung Sugih
Lampung Tengah
Telp/WA : 0813 6918 0073

 

(ES)

Leave a Comment