Floating Dock Raksasa Terbuat dari Beton Hasil Karya Anak Bangsa

PT Canuarta Star Marine, sebuah perusahaan yang berbasis di Batam yang bergerak di bidang usaha jasa pembuatan kapal baru dan juga perbaikan kapal, berhasil membuat floating dock yang terbuat dari beton. Floating dock alias galangan kapal terapung yang diberi nama Paleke Nui ini merupakan pesanan sebuah perusahaan Amerika, Marisco Limited. Peluncuran floating dock raksasa ini dilakukan pada tanggal 4 Mei 2017 yang lalu dan akan menghabiskan waktu perjalanan selama 23 hari sebelum sampai di tempat tujuannya.

Ini merupakan hasil karya pertama bangsa Indonesia dalam membangun ‘sebuah benda terbuat dari beton yang dapat terapung’ secara komersial. Floating dock berfungsi sebagai tempat perbaikan kapal, dimana floating dock dapat ditenggelamkan sehingga 1-2 kapal dapat menempati sebuah posisi untuk diperbaiki. Setelah floating dock dimuat kapal, kemudian floating dock akan mengapung kembali sekaligus mengangkat kapal yang sudah berada di atasnya. Barulah pekerjaan perbaikan dilakukan.

Paleke Nui memiliki panjang 138 m, lebar 46 m, dan bobot 15.500 ton. Bagian bawahnya ini terbuat dari coran beton, baru pada bagian tengah ke atas menggunakan besi.Dikerjakan lebih dari 500 pekerja lokal, desainnya dibuat oleh tenaga ahli gabungan dari Amerika, Tiongkok, Iran, Myanmar dan Bangladesh. Proses pembuatan floating dock yang menghabiskan 4500 kubik semen ini dimulai pada awal 2016 yang lalu. Galangan milik PT Karyasindo Samudera Biru (KSB), Batam dipilih sebagai lokasi pengerjaannya.

Kelebihan dari floating dock yang terbuat dari beton dibanding floating dock konvesional yang terbuat dari besi adalah daya tahannya yang mampu mencapai 20 tahun, bandingkan dengan floating dock dari besi yang hanya mampu bertahan sekitar 5 tahun.Disamping itu, jika terjadi kerusakan, perbaikannya relatif cepat dan mudah. Kekurangan dari kapal yang berbahan beton cuma bobotnya yang lebih berat, namun karena bobotnya ini juga kapal yang berbahan beton relatif lebih stabil saat menghadapi ombak yang besar.

Floating dock atau kapal yang terbuat dari beton sebetulnya bukan teknologi yang baru. Sejarah mencatat, beton digunakan pertama kali sebagai bahan pembuatan kapal pada tahun 1848 saat Joseph-Louis Lambot, menciptakan perahu kecil dari bahan beton bertulang besi atau ferrocement. Bahkan pada masa Perang Dunia I, Presiden AS Woodrow Wilson memerintahkan pembangunan 24 kapal beton sebagai kapal dukungan kepada Angkatan Laut. Namun, sayangnya tidak satu pun dari kapal-kapal itu selesai tepat waktu dan di gunakan dalam masa peperangan. Berbagai negara juga dikenal mampu membuat kapal-kapal beton berukuran besar.

floating_concrete_dock_equipina_1

Di Indonesia, Jurusan Sipil Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI) pernah membuat sebuah protipe perahu nelayan yang terbuat dari beton dengan bekerjasama dengan PT. Krazu Nusantara. Prototipe perahu nelayan ini diluncurkan pada tanggal 17 Juli 2004.

Keberhasilan peluncuran Paleke Nui ini juga sekaligus membuktikan bahwa Bangsa Indonesia mampu membuat kapal-kapal berteknologi tinggi sejajar dengan negara lain.

 

(BW)

Leave a Comment