Intelligent Compaction, Teknologi yang Membuat Pembangunan Jalan Menjadi Lebih Efisien

Bagi Anda yang bergelut pada pekerjaan pembangunan atau pemeliharaan jalan, Anda tentunya paham sekali arti kualitas pemadatan aspal yang dilakukan. Kualitas suatu jalan tidak hanya dipengaruhi kualitas material-material yang digunakan namun juga kualitas proses pemadatan yang dilakukan. Penggunaan material-material yang berkualitas baik belum tentu menjamin kualitas jalan yang dihasilkan nantinya juga akan baik dan bertahan lama. Salah satu faktor yang menyebabkan rendahnya kualitas jalan aspal adalah kepadatan aspal yang tidak merata. Roller atau compactor merupakan alat berat yang paling berperan terhadap kualitas hasil pemadatan.

Di masa lalu karena keterbatasan teknologi, kualitas hasil pemadatan yang dilakukan roller semata-mata tergantung dari kemampuan visual dan ‘feeling’ dari operatornya. Karena tidak adanya suatu ukuran yang pasti, seringkali operator mengulangi pemadatan pada satu area yang sebetulnya sudah cukup padat, sementara di area lain yang lapisan aspalnya belum padat malah tidak dilakukan pemadatan ulang. Akibatnya bisa diduga, nantinya jalan itu akan cepat mengalami kerusakan. Efek lainnya, biaya yang dikeluarkan untuk pekerjaan pemadatan itu menjadi tidak efisien, karena operator berulang-ulang melakukan pemadatan dengan menggerakkan roller yang dioperasikannya maju dan mundur. Hal ini tentunya akan meningkatkan konsumsi bahan bakar, disamping waktu yang dibutuhkan juga akan bertambah.

Menyadari situasi ini merupakan situasi yang umum dihadapi pada pekerjaan pemadatan aspal, pada waktu belakangan ini pabrikan-pabrikan alat berat mulai mengembangkan sebuah teknologi yang dinamakan Intelligent Compaction. Sebetulnya teknologi ini bukanlah sebuah teknologi yang betul-betul baru. Pabrikan-pabrikan alat berat asal Eropa sejak satu dekade yang lalu telah mulai mengembangkan teknologi ini. Namun karena teknologi ini belum dianggap sesuatu hal yang penting, gaungnya belum begitu terdengar.

Belakangan pabrikan alat berat asal Amerika Serikat dan Jepang pun mulai mengembangkan teknologi IC pada compactor-compactor yang diproduksinya yang membuat teknologi ini menjadi sebuah tren baru pada industri konstruksi. Jika kita melihat produk-produk compactor dari berbagai pabrikan pada saat ini, banyak yang sudah menerapkan teknologi IC. Sebagian membundlingnya menjadi standar kelengkapan unit, sebagaian lagi menjadikannya opsi bagi customer-customernya.

Teknologi IC paling tepat diaplikasikan pada vibratory roller, meskipun beberapa pabrikan sedang melakukan riset penerapan teknologi IC pada static drum roller, namun hal ini belum menjadi fokus pabrikan-pabrikan tersebut. Prinsip dibalik alasan mengapa vibratory roller merupakan alternatif yang paling pas adalah karena vibratory roller menghasilkan gaya dinamik yang dihasilkan oleh kombinasi bobot roller dan gaya sentrifugal yang ditimbulkan vibrator.

Salah satu komponen terpenting teknologi IC adalah sensor akselerometer. Sensor ini bertugas mengukur respon aspal terhadap impuls getaran yang dihasilkan roller. Data yang diperoleh kemudian dikumpulkan dan dianalisa untuk kemudian sistem IC akan menentukan tindakan lebih lanjut yang harus dilakukan. Proses ini terjadi dalam waktu yang sangat singkat. Hasilnya akan terpampang pada layar display di hadapan operator, sehingga operator bisa menggunakan informasi ini untuk menentukan tindakan yang akan diambilnya.

Untuk mengaplikasikan teknologi IC, diperlukan kombinasi kerjasama perangkat hardware, software dan sistem kecerdasan yang dipasang pada unit roller.Kegagalan fungsi dari salah satu faktor ini akan menyebabkan kegagalan bekerjanya sistem IC secara keseluruhan. Mengingat begitu rentannya sistem ini, diperlukan pemahaman yang baik dari operator, mekanik dan pihak-pihak yang berkaitan secara langsung pada pekerjaan yang sedang berlangsung terhadap teknologi IC dan pengecekan dan maintenance secara berkala kondisi sistem IC pada roller.

Bagaimana Prinsip Kerja Intelligent Compaction?

Tujuan utama teknologi IC adalah meningkatkan efektivitas dan efisiensi proses pemadatan jalan. Untuk mencapai tujuan-tujuan ini ada beberapa persyaratan yang harus terpenuhi. Pertama, teknologi IC harus bisa memberikan informasi secara real time kepada operator atau orang-orang yang terlibat secara langsung pada pekerjaan yang sedang dilakukan. Kedua, teknologi IC harus mampu mengukur ketebalan lapisan aspal selama proses pemadatan. Hal ini berkaitan dengan densitas. Ketiga, teknologi IC juga harus bisa secara otomatis menyesuaikan parameter operasional roller dengan informasi densitas lapisan aspal.

Dengan semakin berkembangnya teknologi IC, Federal Highway Administration (FHWA), badan federal Amerika Serikat yang bertanggung jawab terhadap desain, pembangunan dan pemeliharaan seluruh jalan di Amerika Serikat membuat standar dati teknologi IC sebagai pedoman yang harus dipatuhi pabrikan-pabrikan alat berat dalam mengembangkan teknologi ini. Beberapa pedoman itu diantaranya:

  • Teknologi IC yang dikembangkan harus mampu mengukur kepadatan aspal dan menyimpannya.
  • Sistem dokumentasi berbasis GPS mampu menghasilkan pemetaan (mapping) dengan warna-warna yang terdisplay pada layar monitor selama berlangsungnya proses pemadatan.
  • Sistem IC yang terpasang pada unit vibratory roller harus mampu memberikan feedback secara responsif.

Namun karena teknologi ini masih relatif baru, FHWA masih memberikan toleransi pada pabrikan-pabrikan alat berat untuk mengembangkan unit-unit vibratory roller walaupun baru mengadopsi 1 atau 2 pedoman idi atas  selama masa uji coba unit. Ke depannya nampaknya teknologi IC ini akan menjadi standar kelengkapan sebuah vibratory roller yang akan mengubah metode kerja berbagai perusahaan konstruksi. Bagi pelaku-pelaku industri konstruksi di Indonesia, hal ini akan memberikan dampak positif dengan semakin meningkatnya produktivitas dan efisiensi bisnis yang dijalankan, namun hal ini juga akan berkaitan dengan perlunya tersedia sumber daya manusia yang memadai dan biaya ekstra untuk penggunaannya.

(TP)

Leave a Comment