Memahami Kurva P-F Untuk Meningkatkan Kualitas Manajemen Maintenance Alat Berat

heavy_equipment_accident_equipina

Maintenance alat berat memegang bagian penting dalam operasional sebuah perusahaan yang menggunakan alat berat secara intensif, misalnya perusahaan pertambangan atau konstruksi. Namun tidak semua perusahaan memberikan perhatian yang serius terhadap maintenance alat-alat berat yang dimilikinya. Sering terjadi maintenance dianggap sebagai pelengkap saja. Tidak heran, dalam pelaksanaannya upaya untuk menekan biaya maintenance sering terlihat dalam praktek sehari-hari, baik memaksakan alat berat beroperasi tanpa maintenance yang memadai, membatasi kegiatan maintenance seperti jadwal maintenance yang tidak dijalankan, penggunaan tool seadanya, kuantitas dan kualitas mekanik yang minim, penggunaan spare part non genuine, dsb.

Maintenance memang membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Berbagai riset menemukan fakta, prosentase yang wajar dari total biaya maintenance berkisar 40%. Angka ini sering digunakan dalam berbagai perhitungan seperti Owning & Operating Cost maupun dalam perhitungan budget tahunan biaya maintenance alat berat. Angka ini juga sering dijadikan patokan dalam membandingkan opsi pemilikan alat berat dibandingkan dengan rental.

Yang perlu diperhatikan, angka 40% merupakan sebuah angka yang ideal, artinya angka ini diperoleh jika alat berat memperoleh pemeliharaan yang baik sesuai standar pabrik dan tidak ada kejadian-kejadian luar biasa (katastropik) yang menyebabkan biaya maintenance membengkak dalam rentang usia ekonomis alat berat itu (yang sering diasumsikan dengan 5 tahun). Tanpa upaya maintenance yang baik, sangat mungkin biaya-biaya maintenance melonjak atau usia ekonomis alat berat tidak panjang dan hanya dijadikan besi tua.

Dalam manajemen maintenance alat berat dikenal sebuah kurva yang dinamakan Kurva P-F. Kurva ini sebetulnya bagian dari Reliability Study, seperti juga sebuah istilah yang cukup populer di kalangan praktisi alat berat yaitu MTBF dan MTTR. Memahami kurva P-F akan membuat kita bisa menyusun program maintenance yang lebih baik. Mari kita simak.

Kurva P-F merupakan sebuah kurva yang menggambarkan perilaku sebuah produk sejak awal diproduksi sampai dengan sudah tidak bisa digunakan lagi. Sebetulnya kurva ini didesain untuk digunakan pada perhitungan kehandalan spare part atau komponen, namun kurva ini juga bisa digunakan pada unit alat berat. Kurva ini terletak pada 2 sumbu, sumbu mendatar mewakili interval waktu sedangkan sumbu tegak mewakili ketahanan produk. Pada kurva berbentuk semi sinusoidal ini terleatk 2 titik, dimana titik pertama merupakan titik Potential (P) Failure, dan titik kedua merupakan titik Functional (F) Failure. Area pada kurva ini terbagi menjadi 3 bagian (fase), yaitu Fase Pre-P, Fase P-F, dan Fase Post-F.

pf_curve_equipina

Fase Pre-P merupakan periode sejak alat berat diproduksi sampai dengan mulai timbulnya sebuah gejala kerusakan pada satu atau beberapa komponen vital. Sebagai patokan untuk kerusakan yang dimaksud di sini adalah kerusakan yang bersifat katastropik (fatal) yang umumnya menyangkut komponen-komponen driveline, seperti engine, transmisi, differential dan final drive. Kerusakan-kerusakan yang tidak bersifat katatrospik, misalnya matinya lampu, putusnya sekring (fuse), dll. tidak dimasukan sebagai bagian dari kurva P-F.

Fase P-F merupakan periode dari mulai timbulnya gejala kerusakan pada satu atau beberapa komponen vital sampai terjadinya sebuah kerusakan yang bisa dikategorikan katastropik. Namun kerusakan katastropik ini masih bisa diperbaiki sehingga unit alat berat masih bisa beroperasi.

Fase Post-F merupakan periode dari terjadinya sebuah (atau beberapa) kerusakan katastropik sampai dengan unit alat berat itu sudah tidak beroperasi lagi. Umumnya yang dimaksud tidak bisa beroperasi lagi adalah tidak layak secara biaya untuk dilakukan perbaikan. Sepanjang biaya yang dibutuhkan untuk melakukan perbaikan masih dianggap ekonomis maka usia dari alat berat itu masih bisa diperpanjang. Namun, terkadang ada kondisi dimana kerusakan itu bisa diperbaiki dengan biaya yang tidak mahal, namun secara teknis tidak layak untuk dilakukan, misalnya pada kasus patahnya main frame dari sebuah alat berat. Walaupun bisa dilakukan pengelasan yang biayanya tidak terlampau tinggi, namun dari sisi  keselamatan kerja hal ini tidak disarankan dilakukan.

Semua alat berat siklus hidupnya mengikuti bentuk kurva ini, yang membedakan adalah tingkat kecuraman kurva yang berbeda-beda. Bagi alat berat yang dirawat dengan baik, kurvanya akan cenderung landai yang berarti alat berat itu berumur panjang. Sedangkan alat berat dengan maintenance yang buruk bentuk kurvanya akan curam.

Hal terpenting dalam pemahaman Kurva P-F adalah melakukan berbagai tindakan maintenance yang sesuai dengan fase-fase pada Kurva P-F, karena hal ini bisa menentukan apakah unit alat berat bisa beroperasi secara maksimal pada lifetime-nya.

Pada Fase Pre-P, berbagai program maintenance yang bisa dilakukan meliputi lubrication excellence, precision maintenance, inventory control, vendor control, training programm, written procedure, planning/scheduling, CMMS dan operator care. Lubrication excellence merupakan program yang berkaitan dengan pelumasan, seperti daily maintenance seperti pengecekan level oli sebelum unit dioperasikan, greasing, termasuk penggantian oli secara berkala. precision maintenance merupakan kegiatan penyetelan alignment, balance, dll. Program ini sebaiknya dilakukan mengikuti standar yang diberikan pabrik pembuat alat berat. Inventory control adalah penyediaan stok spare part termasuk ketersediaan tool-tool service, termasuk special tool. Vendor control merupakan program untuk memastikan ketersedian dukungan dari vendor-vendor baik dealer yang mengageni alat berat maupun vendor-vendor pendukung lainnya. Sementara training programm merupakan penyediaan program-program training, tidak saja bagi mekanik, namun juga bagi level penyelia, maupun karyawan-karyawan yang berkaitan langsung dengan kegiatan maintenance. Written procedure merupakan dokumentasi semua prosedur maintenance, baik dengan pembuatan SOP maupun pengumpulan semua dokumen-dokumen maintenance, seperti part catalog, service manual, termasuk ketersediaan form-form standar. Planning/scheduling merupakan penyusunan jadwal service dan repair alat berat, termasuk jadwal kerja mekanik, cuti maupun training. CMMS (Computerized Maintenance Management System) merupakan software yang digunakan untuk menyusun program maintenance. Operator care merupakan bagian untuk meningkatkan kemampuan dan kepedulian operator terhadap alat berat yang dioperasikannya, seperti training maupun berbagai upaya edukasi operator, misalnya teguran kepada operator yang mengoperasikan alat berat secara serampangan.

Pada Fase P-F program maintenance yang dilakukan bersifat mengontrol/memonitor alat berat. Beberapa program maintenance yang umum seperti ultrasound test, vibration analysis, oil analysis, wear particle analysis, termography dan visual inspection. Pada fase ini berlaku istilah-istilah maintenance yang umum, seperti predictive maintenance dan preventive maintenance.

Sementara pada Fase Post-F, karena alat berat sudah mengalami sebuah atau beberapa kerusakan yang cukup fatal, program maintenance yang dilakukan bersifat korektif berupa perbaikan (repair). Tindakan-tindakan korektif yang dilakukan pada bagian ini biasanya membutuhkan biaya yang cukup besar. Namun program-program maintenance yang dilakukan baik pada Fase Pre-P maupun Fase P-F tetap harus dilakukan.

 

(ES)