Safety, Health & Environment

Memahami Load Chart Pada Crane, Menghindari Kecelakaan Fatal

Beberapa hari yang lalu berbagai media di Indonesia memberitakan sebuah kejadian yang cukup menghebohkan tentang terjungkalnya sebuah crane di Tol Cikampek. Peristiwa yang mengakibatkan kemacetan parah selama hampir 1 hari itu disebabkan sebuah rough terrain crane yang sedang mengangkat rambu Variable Message Sign (VMS) pada proyek Jalan Tol Jakarta-Cikampek Elevated seberat 6 ton terjungkal. Untungnya tidak ada korban jiwa akibat kecelakaan ini, namun kerugian yang timbul pastinya cukup besar.

Sebelumnya pada bulan Agustus 2017, 2 buah crawler crane yang sedang bekerja pada proyek pembangunan LRT di Palembang juga terjungkal. Pada peristiwa ini tidak ada korban jiwa, namun beberapa orang mengalami luka-luka. Peristiwa ini mirip seperti peristiwa terjungkalnya crane di Tol Cikampek dimana crane tidak kuat mengangkat beban dan menyebabkan crane dan beban yang sedang diangkat terjungkal. Kedua peristiwa ini sangat memprihatinkan, bukan mustahil peristiwa serupa bisa terjadi lagi yang selain menimbulkan kerugian materi juga tidak menutup kemungkinan ada korban jiwa yang tidak diharapkan siapapun.

Sebuah crane didesain untuk mengangkat beban berat, sepanjang mengikuti petunjuk dari pabrik yang memproduksinya, peristiwa terjungkalnya crane bisa diminimalisir. Salah satu hal penting dalam pengoperasian crane adalah memahami load chart. Load chart adalah serangkaian data dalam bentuk tabel dan grafik yang menjelaskan kemampuan crane mengangkat beban. Load chart sebuah crane bisa ditemukan pada brosur, operation manual dan tertempel pada unit yang lokasinya bervariasi dari satu merek dengan merek lainnya.

Namun sebelum kita memahami cara penggunaan load chart, kita perlu memahami parameter-parameter pengangkatan sebuah crane seperti contoh di bawah ini.

crane_lifting_calculation

Misalkan kita akan mengangkat sebuah benda dengan berat 6 ton dari permukaan tanah ke sebuah gedung dengan ketinggian 30 meter dengan menggunakan sebuah rough terrain crane Kato KR-500, yang berkapasitas maksimum 50 ton. Sebagai informasi Kato KR-500 memiliki boom bertipe teleskopik 5 tingkat dengan panjang boom maksimum 33,8 meter. Kita akan lihat apakah crane ini mampu mengangkat benda ini ke ketinggian yang dimaksud.

Langkah pertama, kita menentukan jarak A, yang merupakan jarak dari proyeksi beban ke permukaan tanah dengan jarak dari garis proyeksi ke titik tumpu. Untuk penentuan jarak A ini tidak ada satu ketentuan yang mutlak, kita bebas menentukan jarak yang akan dipilih. Namun, hal yang perlu kita pertimbangkan adalah semakin besar sudut θ maka beban yang bisa diangkat akan semakin besar, dan sebaliknya. Misalnya kita menentukan jarak A, sebesar 12 meter.

Langkah berikutnya, kita cek dari grafik load chart apakah hal ini bisa dilakukan. Perhatikan deretan angka pada bagian kanan, kita tentukan angka 30 (menyatakan ketinggian yang ingin dicapai), tariklah garis mendatar ke arah kiri sampai bertemu garis tegak yang menunjukkan angka 12 (menyatakan jarak dari titik tumpu lifting device dengan posisi benda yangakan diangkat). Perhatikan titik perpotongan kedua garis ini, titik perpotongan ini sudah melebihi garis melengkung yang menunjuk angka 27,65 meter (angka 27,65 menyatakan panjang boom ditambah ekstensinya sebanyak 3 tingkat). Dari sini kita mengetahui bahwa harus memanjangkan ekstensinya sampai dengan 5 tingkat agar bisa mencapai ketinggian 30 meter.

load_chart_equipina_2

Kemudian kita lakukan pengecekan dari load table untuk memastikan kemampuan crane mengangkat beban seberat 6 ton pada ketinggian 30 meter. Dari tabel di bawah, terlihat dengan boom 5 tingkat (30 meter dari maksimum 33,8 meter) dengan jarak benda ke titik tumpu lifting device 12 meter, berat benda yang bisa diangkat sebesar 5,75 ton saja.

Apa yang akan terjadi jika crane dipaksakan mengangkat benda seberat 6 ton? Crane akan terjungkal. Walaupun angka-angka pada tabel ini menyatakan 75% dari kemampuan maksimum crane, namun perlu diingat 25% merupakan angka safety factor. Walaupun 6 ton masih masuk area safety factor dari crane, sebaiknya kita tidak memaksakan crane karena bisa timbul hal-hal yang tidak diinginkan.

Bagaimana jika kita tetap ingin mengangkat benda seberat 6 ton ini? Dari tabel terlihat, pada jarak benda 11 meter ke titik tumbu lifting device maka beban yang bisa diangkat meningkat menjadi 6,25 meter. Sehingga langkah yang harus kita lakukan jika tetap ingin mengangkat benda 6 ton ini adalah menggeser crane mendekati benda sehingga jarak benda ke titik tumpu lifting device berkisar pada jarak 4,5 – 11 meter.

Bagaimana jika kita ingin mengangkat benda lain seberat 10 ton pada ketinggian 30 meter? Karena 10 ton sudah berada diluar kemampuan crane mengangkat beban maksimum 7,5 ton, sekalipun jaraknya 4,5 meter, bisa kita simpulkan crane ini tidak akan mampu mengangkat benda ini. Kita harus mengganti dengan crane lain yang memiliki kapasitas angkat lebih besar.

Jika kita ingin mengangkat sebuah benda seberat 10 ton, berapakah ketinggian maksimum yang bisa dicapai oleh crane? Dari load chart terlihat dengan beban seberat 10 ton, ketinggian maksimum yang bisa dicapai crane sekitar 28,5 meter.

load_chart_equipina_1

Dari penjelasan ini semoga Anda bisa menentukan apakah sebuah pekerjaan pengangkatan beban menggunakan sebuah crane bisa dilakukan atau tidak. Namun cara penentuan kemampuan crane yang sudah dijelaskan ini bukanlah satu-satunya hal yang harus dipertimbangkan. Anda juga harus memperhatikan kecepatan angin, kerataan permukaan tanah serta lebar rentangan outrigger. Jangan memaksakan pengoperasian crane jika angin sedang bertiup dengan kencang karena bisa menimbulkan ayunan dari benda yang diangkat. Sementara ayunan dari benda akan memperbesar momen yang ditimbulkan pada titik tumpu lifting device.

Pastikan juga tanah memiliki permukaan yang rata dan keras. Jika kondisi permukaan tanah tidak rata atau cukup lunak,gunakan pelat besi pada masing-masing ‘kaki’ dari outrigger. Terakhir, selalu usahakan untuk merentangkan outrigger semaksimal mungkin.

Sebagai penutup, selalu gunakan persiapan yang matang sebelum melakukan pekerjaan pengangkatan. Bahaya seringkali muncul akibat kurangnya persiapan atau pekerjaan yang terburu-buru. Safety first.

 

(LK)