Safety, Health & Environment Technology Update

Mengenal Intarder, Secondary Retarder Bagi Truk Modern

Dalam pengoperasian kendaraan berat seperti truk atau bus, diperlukan sistem bantu pengereman bagi service brake. Truk dan bus yang bobotnya berat sangat rentan mengalami kegagalan pengereman bila hanya mengandalkan service brake. Service brake yang menggunakan prinsip friksi (gesekan) bila digunakan untuk pengereman dalam waktu yang lama misalnya pada jalan menurun yang cukup panjang akan mengalami kenaikan temperatur yang justru akan mengurangi kemampuan pengereman. Bahkan pada situasi tertentu bisa terjadi kegagalan rem yang dikenal dengan istilah awam sebagai reng blong.

Untuk membantu pengereman yang dilakukan oleh service brake kemudian diciptakanlah rem pembantu. Mulai dari exhaust brake (rem angin), jack brake (engine brake) sampai dengan retarder. Exhaust brake masih cukup banyak digunakan pada truk-truk keluaran terakhir karena harganya relatif murah, namun jika dilihat dari efektivitas pengereman, exhaust brake memiliki kelemahan karena kemampuan pengeremannya cukup rendah.

Hal ini dikoreksi dengan kehadiran jack brake. Jack brake yang prinsipnya menggunakan pengurangan kompresi engine secara drastis dirasakan lebih efektif. Namun pada truk-truk yang berukuran besar dan bermuatan berat, nyatanya jack brake juga tidak sepenuhnya efektif. Momen inersia yang besar dari sebuah truk berbobot sangat berat tidak sepenuhnya bisa dilawan dengan daya pengereman yang dihasilkan oleh jack brake, sehingga akhirnya diciptakanlah retarder. Retarder yang ditandemkan dengan transmisi dan propeller shaft memanfaatkan gaya sentrifugal dari fluida (biasanya oli) yang timbul akibat putaran vane (bilah kipas) pada retarder. Gaya sentrifugal inilah yang digunakan untuk melawan momen puntir dari propeller shaft.

intarder_equipina

Penggunaan retarder cukup populer pada saat ini, berbagai truck besar dengan brand-brand premium umumnya sudah menggunakan retarder pada truk-truk yang diproduksinya. Karena kemampuan pengereman retarder yang dirasakan cukup efektif, bahkan retarder pun banyak digunakan pada alat berat seperti rigid dump truck maupun articulated dump truck di pertambangan.

Namun retarder pun dirasakan belum cukup. Salah satu kelemahan retarder adalah kemampuan pengeremannya dirasakan belum memadai. Pada umumnya kemampuan pengereman retarder berkisar 60-80%, walaupun ada produsen yang mengklaim kemampuan pengereman retarder yang diproduksinya mencapai 90%, namun hal ini dirasakan belum cukup. Sebagai informasi, angka kemampuan pengereman ini sangat mungkin berkurang dengan meningkatnya temperatur fluida (oli) yang menjadi medium pengereman. Hal lainnya, harga retarder ini relatif mahal, sehingga hanya cocok diaplikasikan untuk truk-truk dengan brand premium atau alat berat.

Untuk memperbaiki kekurangan pada retarder, ZF sebuah pabrikan transmisi asal Jerman mendesain sebuah sistem pengereman baru yang dinamakan Intarder. Sistem yang telah dipatenkan ini dibundling dengan transmisi-transmisi yang diproduksi ZF.

Pada prinsipnya sistem bekerja Intarder ini mirip seperti retarder. Baik retarder maupun intarder mengunakan fluida (oli) sebagai medium pengeremannya. Keduanya pun menggunakan prinsip hydromechanic. Bila retarder dipasang pada propeller shaft, maka Intarder dipasang pada transmisi. Sehingga pada Intarder, propeller shaft tetap terpasang pada transmisi.

Bagian utama dari Intarder adalah step-up gear, sebuah gear yang berukuran lebih besar dari pinion gear yang terpasang pada bagian ujung dari propeller shaft. Step-up gear ini terpasang pada sebuah stator berupa vane. Stator ini terpasang pada sebuah rotor yang juga berupa vane yang bisa berputar. Baik stator maupun rotor terpasang di dalam sebuah chamber atau housing. Sebuah hydraulic pump dan heat exchanger melengkapi fungsi Intarder ini.

Saat driver mengaktifkan Intarder, hydraulic pump akan memompakan oli yang akan masuk dan mengisi chamber. Putaran roda belakang akan meneruskan momen puntir kepada propeller shaft yang sekaligus akan memutar pinion gear. Putaran pinion gear akan memutar step-up gear yang terpasang pada rotor. Akibat putaran rotor, oli yang berada di dalam chamber akan terputar dan memukul vane pada rotor dengan gaya sentrifugal sehingga timbullah efek pengereman. Akibat putaran oli hidraulik ini akan menimpulkan panas yang akan didinginkan pada heat exchanger dan masuk ke dalam sistem pendingin keseluruhan. Karena sifat transfer energi berlangsung secara tidak langsung, temperatur oli tidak mengalami peningkatan terlalu signifikan. Alhasil, dengan temperatur yang lebih rendah, efektivitas pengereman pun meningkat.

intarder_equipina_1

Untuk mengaktifkan Intarder bisa dilakukan dengan menginjak pedal rem atau menggunakan tuas tersendiri seperti pada retarder. Intarder bisa dipasang pada truk yang menggunakan transmisi manual maupun otomatis. Bobot dari Intarder juga cukup ringan, hanya berkisar 25 kg dan ukurannya lebih kecil dibandingkan retarder. Sebuah pabrikan truk terkemuka yang telah mengaplikasikan Intarder pada truk-truk terbarunya menyatakan kemampuan pengereman Intarder bisa mencapai 100% dengan kata lain, Intarder bisa menghentikan unit sampai betul-betul berhenti.

Intarder merupakan pasangan bagi service brake dan engine brake, namun Intarder tidak bisa dipasang paralel bersama retarder. Padda saat ini semakin banyak truk-truk yang mengaplikasikan Intarder dalam sistem pengeremannya. Kita tunggu penerapan Intarder pada alat berat.

 

(TM)