Events

Mengupas Permasalahan Pembangunan Infrastruktur Indonesia dan Peluangnya, Seminar INTA Institute 13 April 2016

IMG_20160413_151242

Dalam era globalisasi saat ini, di  tengah perjuangan semua negara untuk meningkatkan taraf kehidupan bangsanya, Indonesia relatif tertinggal dan sulit untuk bersaing. Padahal Indonesia memiliki modal untuk unggul dalam persaingan gobal karena Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah, disamping sumber daya manusia yang handal. Keunggulan ini tidak membuat Indonesia menjadi lebih baik, nyatanya banyak persoalan yang ada dan membuat bangsa Indonesia semakin jauh tertinggal. Hal ini salah satunya disebabkan tidak adanya infrastruktur yang merata, cukup dan berkualitas.

Menyadari hal ini PT. Intraco Penta, melalui INTA Institute berupaya berperan serta membuka wawasan masyarakat khususnya profesional di industri infrastruktur dan yang terkait untuk memiliki pemahaman mengenai besarnya peluang di industri ini sekaligus apa yang menjadi tantangan-tantangannya melalui Seminar yang bertajuk Peluang dan Tantangan Industri Manufaktur. Seminar ini berlangsung pada Rabu, 13 April 2016 dengan mengambil tempat di Auditorium INTA, Gedung D, kantor pusat Intraco Penta Group, Cakung Jakarta Utara. Sebagai narasumber adalah Frans S. Sunito, Managing Director PT. Pembangunan Jaya Infrastruktur yang memiliki banyak pengalaman di berbagai perusahaan konstruksi terkemuka di Indonesia.

Seminar dimulai pada pukul 13.30 dengan didahului oleh pembacaan doa oleh Andi Hanif Mursid, sebagai General Manager Learning and Development PT. Intraco Penta, Tbk. dan dilanjutkan dengan sambutan dari Fred Manibog, yang mewakili manajemen PT. Intraco Penta, Tbk.

Frans S. Sunito memulai pemaparannya menyampaikan bagaimana tertinggalnya infrastruktur Indonesia, dimana Indonesia menduduki peringkat 92 dari 110 negara dalam hal kualitas infrastruktur (The Global Competitiveness Report 2012). Hal ini salah satunya disebabkan infrastruktur Indonesia dibangun untuk mengejar ketertinggalan bukan mengantisipasi pertumbuhan. Hal ini nyata terlihat saat dilakukan perencanaan pembangunan, setelah pengerjaan proyek pembangunan itu selesai beberapa tahun ke depan, ternyata kebutuhan yang ada pada saat itu masih melebihi kemampuan infrastruktur yang telah dibangun. Ketidakmampuan mengimbangi kebutuhan infrastruktur ini menyebabkan biaya logistik di Indonesia termasuk yang termahal di dunia. Biaya logistik Indonesia menghabiskan 27% dari GDP Indonesia, jauh lebih tinggi dari negara-negara di Asia Tenggara, apalagi kalau dibandingkan dengan negara-negara maju.

Hal yang juga sangat mengagetkan peserta seminar ini adalah fakta yang disampaikan oleh Frans mengenai sangat sedikitnya jumlah perusahaan infrastruktur di Indonesia yang berkategori perusahaan besar (mampu menangani proyek-proyek infrastruktur di atas 1 trilyun rupiah), Indonesia hanya memiliki 7 perusahaan yang mayoritas adalah BUMN. Hal ini tidak mengherankan jika belakangan ini banyak perusahaan infrastruktur dari berbagai negara masuk dan menggarap berbagai proyek-proyek infrastruktur. Menurut Frans, ada 4 isu besar yang dihadapi industri infrastruktur Indonesia, yaitu ruang fiskal yang terbatas, paradigma yang keliru mengenai peran swasta, masalah pembebasan lahan serta  kapasitas dan kualitas pengelola dari industri pendukung. Ruang fiskal yang terbatas semestinya bisa disiasati dengan melibatkan swasta dengan skema pembiayaan dan pembayaran yang menguntungkan. Pihak badan usaha baik BUMN khususnya swasta yang motivasinya adalah keuntungan bisnis tentunya harus difasilitasi sehingga mau berpartisipasi dalam proyek-proyek infrastruktur, terutama proyek-proyek infrastruktur yang tidak memberikan keuntungan bisnis dengan cara pemerintah yang memiliki dana menjadi penyandang dana. Ada 2 skema pembiayaan dan pembayaran yang dapat dilakukan pemerintah yaitu skema pembiayaan oleh swasta yang dibayar oleh pemerintah berdasarkan tingkat pemanfaatan yang diberikan proyek tersebut. Hal ini bisa dilakukan di proyek-proyek yang  tidak memiliki kelayakan bisnis namun diperlukan masyarakat sehingga tidak bisa diharapkan pengembalian modal dari masyarakat penggunanya. Skema kedua lebih cocok digunakan di proyek-proyek yang mengharapkan masyarakat pengguna melakukan pembayaran untuk pengembalian modalnya, seperti di jalan-jalan tol di Jabodetabek.

Disamping faktor pembiayaan dan pembayaran, tantangan-tantangan yang ada dalam industri infrastruktur juga datang dari internal pemerintah dan pelaku bisnisnya, dimana pemerintah belum sepenuhnya memahami konsep kelayakan finansial proyek infrastruktur dan pada saat yang sama masih ada badan usaha yang mau berinvestasi dalam proyek infrastruktur tanpa mempertimbangkan aspek kelayakan finansial. Hal ini disebabkan euforia yang berlebihan di awal proyek-proyek infrastruktur. Masih sering terjadi pemerintah maupun badan usaha tidak memperhitungkan resiko finansial di kemudian hari.

Tidak lupa Frans juga memamparkan berbagai prospek proyek-proyek infrastruktur di Indonesia pada saat ini dengan memaparkan kelebihan dan kekurangannya.

Di akhir pemaparan seminar, peserta diberikan kesempatan untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Satu demi satu peserta mengajukan pertanyaan dengan antusias, bahkan terkadang beberapa kali terkesan berebut untuk bertanya.

Seminar diakhiri dengan ucapan terima kasih yang disampaikan oleh Fred Manibog mewakili manajemen dan penyerahan kenang-kenangan kepada narasumber.

IMG_20160413_163018

IMG_20160413_163214

 

 

 

 

 

 

Seminar ini menjadi seminar yang mencerahkan pemikiran praktisi-praktisi bisnis baik peserta yang berasal dari industri infrastruktur maupun industri-industri pendukungnya termasuk alat berat. Bravo kepada INTA Institute, semoga melalui event-event seperti ini dapat mendatangkan kemajuan bagi bangsa Indonesia.

IMG_20160413_163629IMG_20160413_163927

 

 

 

 

 

 

 

 

(ES)

Leave a Reply