Robert LeTourneau, Bapak “Giant Heavy Equipment” yang Berjiwa Filantropi

Sejarah dunia mencatat lahirnya berbagai tokoh besar yang menorehkan berbagai karyanya semasa mereka hidup. Karya-karya mereka tidak saja berdampak pada masa  itu, namun juga pada zaman sesudahnya dan menginspirasi berbagai hal baru yang membuat perubahan pada dunia.

Perkembangan alat berat pada saat ini, tidak terlepas dari warisan yang ditinggalkan tokoh-tokoh alat berat dunia. Salah satu contohnya, perkembangan alat berat berukuran raksasa atau yang dikenal dengan istilah ‘ultra class heavy equipment’ yang sudah umum kita lihat pada saat ini pada pertambangan tidak terlepas dari nama seorang Robert LeTourneau. Warisan ide, semangat dan jiwa filantropinya terus diingat sampai saat ini. Tidak heran, bagi sebagian orang yang berkecimpung di dunia alat berat, LeTourneau dijuluki bapak alat berat modern.

Robert Gilmour LeTourneau lahir pada tanggal 30 November 1888 di kota Vermont, Amerika Serikat. Tidak pernah mengenyam pendidikan teknik, kondisi orang tuanya yang miskin membuat LeTourneau memutuskan keluar dari sekolah saat usianya 14 tahun. Ia kemudian bekerja di sebuah perusahaan pengecoran besi di kota Portland.  Saat bekerja di sini ia mengikuti sebuah kursus mekanikal secara korespondensi. Walaupun ia tidak pernah menyelesaikan kursus ini, namun pengetahuan yang diperolehnya di kursus ini kelak menjadi pondasi pengetahuannya di bidang alat berat.

LeTourneau muda kemudian  pindah bekerja ke San Francisco di sebuah perusahaan pembuatan berbagai produk kebutuhan kapal dan peralatan kehutanan. Namun gempa bumi dan kebakaran dahsyat yang melanda California pada tahun 1906 membuat situasi kehidupan menjadi sangat sulit yang memaksa LeTourneau pindah bekerja di sebuah perusahaan pembangkit listrik. Di sinilah ia belajar mengelas yang kemudian tidak saja memberikan keahlian baru namun juga membentuk konsepnya dalam bidang mekanikal. Tidak lama bekerja di sini, karena situasi perekonomian yang sangat sulit, LeTourneau kembali harus berpindah-pindah pekerjaan. Ia sempat bekerja sebagai tukang potong kayu, tukang bangunan dan pekerja tambang yang kelak memberikannya wawasan dalam menjalankan bisnis.

Pada tahun 1909 LeTourneau mengambil sebuah kursus otomotif secara korespondensi yang kembali  memberikan tambahan keterampilan pada kehidupannya. Sempat bekerja pada sebuah proyek pembangunan jembatan di atas Sungai Stanislaus, didorong keinginannya yang kuat untuk mengaplikasikan berbagai keterampilan yang dimilikinya pada tahun 1911 bersama seorang kenalannya ia mendirikan bisnis pertamanya, Superior Garage, di wilayah Stockton, California, yang bergerak di bidang land clearing,dengan modal awal cuma $1000.

Disinilah awal LeTourneau mulai berkecimpung dengan alat berat. Ia melihat banyak kelemahan dari alat berat yang digunakan, yang memaksanya untuk memperbaiki sendiri alat-alat berat itu. Lambat laun kontrak pekerjaan yang diperolehnya semakin bertambah, namun kendala keterbatasan dari alat berat yang ada menyebabkan ia sering kehilangan peluang bisnis. Mulailah ia merancang dan membuat sebuah attachment yang diberi nama Carryall, sejenis scraper yang ditarik sebuah traktor. Dengan inovasi yang dibuatnya, ia bisa menangani sebuah pekerjaan land clearing yang sebelumnya harus dikerjakan oleh 1000 orang lebih.

Semasa Perang Dunia I, seperti warganegara Amerika Serikat yang lain, LeTourneau harus mengikuti wajib militer. Namun LeTourneau menolak wajib militer karena cedera leher permanen yang dialaminya pada sebuah kecelakaan mobil. Sebagai gantinya ia bekerja sebagai asisten mekanik pada sebuah perusahaan galangan kapal angkatan laut, Mare Island Naval di wilayah Vallejo, California. Dalam pekerjaannya ini, ia mengembangkan keterampilannya di bidang elektrikal, khususnya pengelasan listrik.

Setelah Perang Dunia I berakhir, ia kembali ke Stockton dan berniat meneruskan bisnisnya yang harus ditinggalkan semasa Perang Dunia I. Ia melihat bisnisnya mengalami kebangkrutan dan meninggalkan hutang yang cukup besar baginya. Demi bisa membayar hutang Superior Garage, LeTourneau mengambil pekerjaan perbaikan crawler tractor milik Holt Manufacturing Company dan sekaligus mengoperasikan traktor itu bersama sebuah scrapper untuk membuka lahan seluas 16 hektar.

Pada periode 1920-an sampai 1930 ia tetap menekuni bisnis land clearing-nya dengan hasil yang tidak memadai. Begitupun, ia sempat menangani berbagai proyek penting di California dan Nevada. Pada awal 1930-an, ia memutuskan menutup bisnis land clearing dan memusatkan perhatiannya untuk mengembangkan bisnis pembuatan alat berat,dengan mendirikan R.G. LeTourneau, Inc.

Pada tahun 1935, ia membuka sebuah bengkel fabrikasi di wilayah Peoria, Illinois, yang membuat alat-alat berat. Sebuah peristiwa kecelakaan yang dialaminya pada tahun 1937 membuatnya harus terbaring di rumah sakit. Selama perawatan di rumah sakit ia memiliki waktu luang untuk memikirkan desain alat berat yang diproduksinya. Mulailah ia membuat sketsa sebuah scraper yang diberi nama Tournapull. Berbeda dari scrapper yang pernah dibuat LeTourneau sebelumnya yang ditarik sebuah traktor, Tournapull merupakan sebuah scraper yang berpenggerak sendiri, sehingga tidak dibutuhkan lagi traktor untuk menariknya. Sebagai ganti traktor digunakan 2 ban karet. Tournapull bisa berputar 900 saat bekerja. 6 bulan kemudian ia berkutat di bengkelnya membuat cetakan bagi Tournapull yang akan diproduksinya.

Keberuntungan pun mulai menghampirinya dengan sambutan pasar yang positif terhadap Tournapull. Bisnis pembuatan alat beratnya semakin berkembang. Berturut-turut ia membuka pabrik baru di Toccoa, Georgia, pada tahun 1938, Rydalmere, New South Wales, Australia pada tahun 1941, Vicksburg, Mississippi pada tahun 1942, dan Longview, Texas pada tahun 1945.

Perjalanan panjang pasang surut kehidupannya juga membuat LeTourneau melihat pendidikan adalah jalan keluar menuju kehidupan yang lebih baik. Walaupun hanya berpendidikan rendah, pada tahun 1946, LeTourneau mendirikan LeTourneau University, sebuah institut teknologi yang didirikannya di atas sebuah lahan bekas rumah sakit militer yang terbengkalai. Di universitasnya, mahasiswa bisa belajar tanpa dikenai biaya, tidak hanya biaya kuliahnya namun juga kebutuhan hidupnya.

Jiwa filantropis LeTourneau memang banyak terbentuk pada masa-masa sulit kehidupannya. Penghayatannya yang mendalam tentang Tuhan menjadikannya pribadi yang sangat berjiwa sosial. Bahkan saat R.G. LeTourneau, Inc. mencapai puncak kejayaannya, ia memberikan 90% dari keuntungan perusahaannya untuk berbagai hal yang bersifat sosial dan hanya mengambil 10% untuk kehidupannya.

Pada tahun 1953, Letourneau menjual semua perusahaannya kepada Westinghouse Air Brake Company, yang kelak dikenal dengan Wabco, sebuah perusahaan yang memproduksi air brake. Ia sendiri kemudian memfokuskan diri pada kegiatan-kegiatan filantropis, disamping mendirikan perusahaan yang bergerak di bidang R&D, LeTourneau Technologies. Kelak inovasi perusahaan ini dikenal dengan teknologi electric wheel drive yang semakin banyak digunakan pada ‘giant heavy equipment’ pada masa kini.

Dari berbagai pengalaman yang pernah dijalaninya, ia berkesimpulan, salah satu faktor penting produktivitas pada operasional alat berat adalah kapasitas alat berat. Kapasitas yang salah satunya dipengaruhi ukuran alat berat menjadi penting manakala sebuah pekerjaan merupakan pekerjaan yang skalanya besar. Tidak heran, ia sangat terobsesi memproduksi berbagai alat berat yang berukuran besar. Salah satu alat berat raksasa yang diproduksi LeTourneau yang sangat fenomenal adalah wheel loader LeTourneau L2350. Unit ini tercatat pada Guiness Book of Record sebagai wheel loader terbesar di dunia. Record ini belum terpecahkan, bahkan oleh alat-alat berat masa kini, misalnya wheel loader Komatsu WA1200, yang saat ini merupakan wheel loader modern terbesar.

Ukuran unit ini memang fantastis, dengan bobot operasional 260 ton, engine-nya Detroit 16 silinder 65 liter berkekuatan 2300 Hp. Dengan bucket 40,52 m³, LeTouneau L2350 mampu mengangkat beban 72 ton. Kehandalan unit ini diakui oleh para penggunanya, meskipun unit bisnis wheel loader LeTourneau telah dijual kepada P&H, beberapa unit L2350 masih beroperasi sampai dengan sekarang di area-area pertambangan di Amerika Serikat.

Wheel Loader LeTourneau L2350

Tidak hanya alat-alat berat yang berukuran raksasa yang menjadi ‘legacy” dari LeTourneau, Robert Letourneau merupakan pemegang 299 hak paten berbagai produk. Beberapa di antaranya yang sangat fenomenal adalah portable crane, soil roller, jembatan portabel, peralatan pemboran minyak yang bisa dipindah-pindahkan, dan tentu saja electric-powered wheel (electric drive) yang saat ini menjadi solusi alat berat di pertambangan.

Semasa hidupnya ia banyak mendapatkan penghargaan atas dedikasinya di bidang alat berat dan kemanusiaan. Ia kerap membantu proyek-proyek kemanusiaan di berbagai negara di seluruh dunia. Ia berperan besar pada pembangunan negara Liberia dan Peru. Tidak kurang 30 penghargaan telah diterimanya di bidang engineering, manufacturing dan pengembangan alat berat.

Salah satu gelar yang diperolehnya adalah dari I.C.S. sebuah institusi dimana ia pernah mengambil kursus namun tidak diselesaikannya. Ia mendapat gelar Diploma in Engineering pada usianya yang telah mencapai 76 tahun. Pada wisudanya secara berkelakar ia berkata, “Sekarang saya memperoleh gelar diploma. Sekarang saya berpendidikan.”

LeTourneau meninggal pada 1 Juni 1969 setelah mengalami serangan stroke di usianya 80 tahun. Ia dimakamkan di salah satu sudut LeTourneau University, universitas yang dibangunnya dengan tujuan untuk kebaikan umat manusia. Legacy yang ditinggalkannya masih terus ada dan berkembang di industri alat berat modern pada saat ini.

(TP)

Leave a Comment