Sistem Final Drive Pada Truk : Single Vs Hub Reduction

Pada brosur-brosur truk atau alat berat, mungkin kita pernah menemukan istilah single reduction atau hub reduction pada bagian final drive. Apa arti istilah kedua istilah ini dan mengapa hal ini penting dan menjadi bahan pertimbangan saat akan berinvestasi membeli truk atau alat berat? Mari kita simak.

Final drive (atau gardan, istilah awam) adalah komponen dari power train sebagai penggerak akhir yaitu menuju roda atau track. Secara sederhana, putaran engine akan diubah menjadi torsi pada putaran yang berbeda-beda oleh transmisi sebelum akhirnya ditransfer ke final drive menjadi gerakan berputar pada roda. Tugas dari final drive adalah mengubah putaran tinggi dari transmisi menjadi putaran rendah dan mentransfernya ke roda kiri maupun kanan dengan menggunakan propeller shaft.

Tanpa adanya transmisi, sebuah mobil atau alat berat bisa melaju tak terkendali karena tingginya putaran. Final drive akan menurunkan putaran yang masuk menjadi lebih rendah berdasarkan rasio tertentu. Misalnya putaran dari transmisi disalurkan ke final drive dengan rasio 1: 10, artinya jika sebuah putaran keluar (out) dari transmisi sebesar 700 rpm oleh final drive akan diturunkan menjadi 1/10 nya alias 70 rpm. Kecepatan 70 rpm inilah yang menjadi kecepatan putaran roda.

Dengan diturunkannya kecepatan putaran roda, besarnya torsi dari roda pun meningkat, sehingga truk atau alat berat itu bisa bergerak dengan kecepatan yang bisa ditolerir sekalipun truk atau alat berat itu sedang membawa muatan yang cukup berat.

Final drive tipe single reduction umum digunakan pada mobil-mobil penumpang atau truk dan bus di jalan raya. Ciri dari final drive tipe ini adalah ukuran gardan yang besar. Ukuran gardan yang besar ini dikarenakan penggunaan crown wheel yang berukuran besar. Final drive bertipe single reduction memiliki kelebihan, selain lebih simpel juga lebih responsif karena torsi yang berasal dari engine bisa disalurkan ke roda tanpa adanya perantara.

Namun final drive bertipe single reduction juga memiliki kekurangan. Karena ukurannya yang besar, final drive tipe ini hanya cocok digunakan pada jalan raya yang relatif rata. Final drive tipe single reduction akan menjadi masalah bila digunakan pada medan-medan yang dikategorikan off-road. Dengan ukuran final drive  yang besar potensi tersangkut batu-batuan atau tanah juga besar yang bisa membuat truk tersebut tidak bisa bergerak.

Untuk itulah, pada truk-truk yang berkategori heavy duty banyak menggunakan final drive bertipe hub reduction. Final drive bertipe hub reduction menyalurkan putaran dari gardan ke hub yang ada pada masing-masing roda. Pada hub, putaran kembali diturunkan melalui gear-gear yang ada di dalam hub tersebut sebelum disalurkan ke roda. Oleh karenanya final drive yang bertipe hub reduction tidak memerlukan crown wheel berukuran besar, karena fungsi dari crown wheel hanya sekedar meneruskan putaran yang berasal dari propeller shaft.

Dengan ukuran gardan yang kecil, truk-truk yang menggunakan final drive bertipe hub reduction memiliki ground clearance yang besar yang dibutuhkan saat melintasi medan-medan yang cukup sulit. Tingginya gardan membuat truk-truk bisa melaju dengan baik di medan-medan yang buruk. Truk-truk militer umumnya menggunakan final drive tipe hub reduction ini, karena dibutuhkan ground clearance yang tinggi saat melintasi berbagai medan buruk pada pertempuran.

Namun final drive tipe ini memiliki kekurangan, karena transfer putaran terjadi secara tidak langsung, truk-truk yang menggunakan final drice tipe hub reduction lebih lambat responnya sehingga lebih cocok diaplikasikan untuk truk-truk yang membutuhkan torsi besar.

(HP)

Leave a Comment