Terex Pick & Carry Crane AT 40, Mengembalikan Kejayaan Terex Pada Bisnis Lifting Equipment

Nama besar Terex di bisnis lifting equipment sudah tidak perlu diragukan lagi. Pabrikan alat berat asal AS ini dikenal memiliki sejarah panjang dalam mengembangkan berbagai jenis crane yang membuat nama Terex besar. Sayangnya karena kebijakan yang super ekspansif pada periode 1996 – 2003 dengan mengakuisisi berbagai merek alat berat maupun processing plant (tidak kurang 50 brand pernah dipegang oleh Terex Corporation yang tidak semua berkaitan dengan core business-nya), pada saat hantaman krisis ekonomi global pada tahun 2008 Terex harus melepaskan sebagian merek-merek yang dipegangnya dan berfokus pada core business-nya : lifting & material handling.

Setelah krisis ekonomi global itu, berbagai produk alat berat dari Tiongkok mulai merambah pasar alat berat dunia. Nama Terex semakin tenggelam, karena tidak sedikit dari produk-produk asal Tiongkok itu merupakan produk-produk crane yang menawarkan harga lebih murah dengan teknologi yang tidak kalah inovatif. Dengan cepat produk crane asal Tiongkok diterima pasar di berbagai negara. Proses kembalinya Terex menjadi salah satu pemimpin pasar crane dan lifting equipment dunia tidaklah mudah. Belajar dari pengalaman masa lalu, Terex mencoba bangkit kembali dengan meluncurkan berbagai produk crane, salah satunya melalui sebuah produk inovatif: Pick & Carry Crane melalui Terex AT 40.

terex_pick_carry_crane_at40_equipina_2

Terex AT 40 diluncurkan pertama kali pada bulan September 2016 pada ajang Crane Industry Council of Australia (CICA) 2016 yang berlangsung di Queenslands. Kehadiran Teres AT 40 sangat menyedot perhatian pengunjung karena Terex menawarkan konsep mobile crane yang inovatif. Sepintas bentuk dari AT 40 ini menyerupai truck crane, namun bila kita perhatikan telescopic boom dari AT 40 menyerupai rough terrain crane.

AT 40 memang didesain untuk menggabungkan keunggulan dari truck crane dan rough terrain crane. Bila truck crane mampu bergerak dengan cepat karena ‘basic’ dari unitnya adalah truk, namun truck crane memiliki keterbatasan dalam kapasitas angkatnya. Sebaliknya rough terrain crane mampu mengangkat beban yang cukup berat namun memiliki keterbatasan dalam kecepatan bergeraknya sekalipun memiliki ban-ban yangberukuran besar. Kekurangan inilah yang dieliminir AT 40.

Menggunakan 12 buah ban pada 3 axle, dimana ban depan memiliki ukuran yang lebih besar (385/95 R25) dibanding ban bagian belakang (315/80 R22.5) membuat AT 40 mampu mengangkat beban berat tanpa menggunakan outrigger seperti crane pada umumnya. Dengan ukuran ban yang lebih kecil dibandingkan rough terrain crane membuat AT 40 mampu melaju dengan kecepatan tinggi. Kecepatan maksimumnya mencapai 75 km per jam seperti pada truck crane.

AT 40 mampu mengangkat beban maksimum 40 ton. Pada ketinggian boom maksimum (20 meter) beban yang bisa diangkat mencapai 10 ton. Hebatnya, pada saat mengangkat beban tidak diperlukan outrigger. Kemampuan dari AT 40 berartikulasi pada axle depan membuat outrigger tidak diperlukan lagi. Cukup dengan membelokkan front axle (maksimum 400) AT 40 bisa beraksi mengangkat beban berat. Seperti kita ketahui, pada penggunaan mobile crane sering diperlukan waktu cukup lama untuk mengatur (setting) outrigger, terutama di area-area dengan permukaan yang tidak rata.

Dengan tidak diperlukan lagi pengaturan outrigger, AT 40 mampu bekerja sangat cepat di beberapa lokasi sekaligus. Kita bisa membayangkan manfaat dari fitur ini misalnya saat digunakan untuk pekerjaan maintenance beberapa alat berat di area pertambangan. Pada saat banyak unit alat berat di lokasi yang berbeda sedang dilakukan perbaikan yang membutuhkan crane, akan terasa efisiensi waktu yang diperoleh dengan kemampuan AT 40 ini.

terex_pick_carry_crane_at40_equipina_1

Terex AT 40 menggunakan engine Mercedes OM 906 Euro 3 275 Hp dengan torsi maksimum 1100 Nm. Transmisinya menggunakan Allison 6 percepatan dengan gearbox dari ZF. Ketiga axle-nya menggunakan axle performa tinggi dari Kessler. Lifting boomnya menggunakan 4 tingkat hidraulik load sensing yang digerakkan oleh axial piston pump. Unit ini bisa melaju dengan penggerak 2 roda (2 WD) maupun 4 WD dengan kedua axle belakang mengunci. Axle 3 merupakan non drive axle.

 

(ES)